Riwayat Iklan: dari Reklame hingga Banner Portal

Iklan Bisnis Indonesia – Darimana histori iklan bermula? Iklan adalah fenomena kontemporer abad 20, tapi cikal dapat periklanan memang telah tersedia sejak berabad-abad lalu. Periklanan di dalam arti simpel di awali saat orang terasa hidup terhadap kelompok-kelompok kecil dan coba pengaruhi orang lain untuk belanja barang komoditas sehari-hari. Selanjutnya periklanan tambah meluas berkat pengembangan teknologi mesin cetak di Eropa terhadap th. 1455 dan gelombang Revolusi Industri terhadap abad 18 yang mempercepat akses bisnis dan memperluas pasar industri.
Dalam masyarakat modern, iklan disimpulkan sebagai salah satu bentuk informasi teranyar kepada customer perihal beraneka komoditas dan dorongan-dorongan kebutuhan khusus yang mempunyai tujuan untuk memelihara tingkat produksi(Konig; di dalam Schudson, 1986: 196). William F Arens (1999: 7) mengartikan iklan sebagai struktur informasi dan lapisan komunikasi nonpersonal yang kebanyakan dibiayai dan berwujud persuasif, perihal aneka produk (barang, jasa dan gagasan) oleh sponsor yang teridentifikasi melalui beraneka macam media.Frank Jefkins di dalam bukunya Advertising (1997) mengelompokkan ragam iklan jadi tujuh kategori, yaitu (1) iklan konsumen, (2) iklan bisnis ke bisnis atau iklan antarbisnis, (3) iklan perdagangan, (4) iklan eceran, (5) iklan keuangan, (6) iklan langsung, dan (7) iklan lowongan kerja.

Dunia periklanan mengalami perkembangan pesat setelah besinergi bersama teknologi Sepanjang abad 20, periklanan nampak terhadap lima media utama yaitu; suratkabar, majalah, radio, televisi, dan media outdoor (billboard-sebagian orang menyebutnya reklame). Meski kelima media ini selalu bisa menjangkau jumlah besar orang, tapi sementara ini lebih banyak pilihan tersedia. Pada th. 1920-an, radio sebagai wahana iklan tambah menguat dan memunculkan para pengiklan melalui siaran radio. Puncak booming iklan di radio berlangsung terhadap th. 1926, saat RCA belanja jaringan radio layaknya AT&T, juga WEAF di New Jersey dan mendirikan Perusahaan Siaran Nasional. Munculnya radio jaringan menciptakan iklan yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan di seluruh negara anggota secara simultan.

Pada masa Perang Dunia II, televisi nampak sebagai wahana untuk menyampaikan iklan, terutama setelah pendirian jaringan televisi nasional di Amerika terhadap th. 1948. Televisi bersama cepat jadi media baru yang menyaingi media lain sebagai alat bagi pengiklan bersama skala nasional. Kombinasi berasal dari suara dan pandangan memberi warna bagi para pengiklan untuk menarik minat jutaan penonton televisi bersama cara yang dramatis.

Perkembangan sepanjang satu dekade paling akhir yang paling revolusioner adalah iklan melalui teknologi internet dan mobile (mobile adverstising). Salah satu aspek yang paling menarik berasal dari internet dan mobile adalah kekuatan interaktifnya. Iklan interaktif terlalu mungkin tanggapan langsung berasal dari pelanggan terhadap iklan yang disampaikan. Fenomena ini melahirkan integrated marketing communication (IMC) yang menunjang pemakaian seluruh saluran komunikasi kepada pengiklan. Dengan kata lain, IMC merupakan praktik berasal dari integrasi seluruh alat komunikasi.

Periklanan di Indonesia: berasal dari Masa ke Masa

Menurut Bondan Winarno di dalam buku ”Rumah Iklan”, histori periklanan di Indonesia lahir bersamaan histori kelahiran suratkabar. Koran pertama punya Belanda Bataviaasche Nouvelles, sementara terbit sebagian besar isinya adalah iklan perihal perdagangan, pelelangan, dan pengumuman formal pemerintah Hindia Belanda. Iklan suratkabar sementara itu kebanyakan menampilkan produk-produk yang dikonsumsi masyarakat kelas atas. Sebuah toko P&D (provisien en drunken = kebutuhan makan dan minum) misalnya, mengumumkan melalui suratkabar perihal kedatangan kapal berasal dari Negeri Belanda yang mempunyai mentega dan keju stok baru. Cerutu dan bir juga merupakan komoditas impor terhadap masa itu, dan kerap diiklankan di suratkabar (Winarno, 2008: 10).

Pada masa itu perusahaan periklanan terbesar adalah Aneta. Aneta apalagi sempat mendatangkan tiga orang tenaga spesialis periklanan berasal dari Belanda. Mereka adalah F. Van Bemmel, Is van Mens, dan Cor van Deutekom yang didatangakan atas sponsor BPM (Bataafsche Petroleum Maatsschappij), perusahaan minyak terbesar sementara itu dan General Motors yang harus mempromosikan produk-produk mereka.

Menurut Winarno (2008: 11-12), etnis Tionghoa yang terlibat di dalam bisnis media cetak di Indonesia juga mengembangkan bidang periklanan. Yap Goan Ho misalnya, seorang yang bertahun-tahun bekerja sebagai copywriter di perusahaan periklanan dan suratkabar De Locomotief (Semarang), pada akhirnya mendirikan perusahaan sendiri di Jakarta. Perusahaaannya dikontrak secara khusus oleh suratkabar berbahasa Melayu, Sinar Terang, dengan tujuan untuk mendatangkan iklan bagi suratkabar. Orang-orang pribumi juga turut mewarnai perkembangan industri periklanan di tanah air, layaknya R.M Tirto Adisoerjo (Medan Prijaji), Tjokroaminoto (Sinar Djawa), M. Sostrosijoto (Medan Moeslimin), Abdoel Moeis (Neratja), Hendromartono (Mardi Hoetomo), S. Soemodihardjo (Economic Blad), dan lain-lain.

Setelah merdeka, dasawarsa th. 1970-an merupakan kebangkitan periklanan moderen Indonesia setelah sekian lama ditelan oleh gejolak politik yang melumpuhkan beraneka sektor ekonomi. Pada masa itu perusahaan-perusahaan multinasional masuk Indonesia memanfaatkan kebijakan baru di bidang Penanaman Modal Asing. Maraknya produk-produk yang diluncurkan ke pasar oleh industri bermodal asing ini membuka kesempatan bagi dunia periklanan untuk beroperasi. Demikian juga media-media untuk beriklan tambah marak.

InterVista adalah salah satu perusahaan periklanan yang memadai berperan mutlak di dalam histori periklanan Indonesia. Pendirinya, Wicaksono Nuradi, diakui sebagai perintis periklanan di tanah air. Ia mendirikan InterVista terhadap th. 1963. Selain InterVista, Matari yang didirikan oleh Ken Sudarto terhadap th. 1971 dan masih sukses hingga sementara ini juga merupakan legenda biro iklan lokal yang lahir bertepatan dengan booming di sektor periklanan th. 70-an dan mengilhami berdirinya perusahaan periklanan lainnya, baik yang murni lokal, maupun yang berwujud perusahaan multinasional.

Dari segi teknologi, dasawarsa 1970-an, merupakan periode transisi berasal dari teknologi cetak tinggi (press printing) menjadi teknologi cetak offset. Dengan sistem cetak tinggi yang Mengenakan media timah, materi iklan cetak juga berwujud plat timah yang ditempelkan terhadap sebidang papan kayu. Di masa itu, plat ini dikenal bersama nama “klise”. Saat masa transisi pada teknologi cetak dengan offset, sempat nampak pula teknologi pengganti media timah bersama palstik nilon. Teknologi ini disebut nyloprint. Tetapi demam offset agaknya membuat nyloprint tidak bertahan lama (Winarno, 2008: 42). Kemunculan teknologi offsetmengubah cara penyiapan materi iklan, tapi cara pembuatan artwork masih selalu asma, hingga masa pc menggantikannya terhadap akhir th. 1980-an. Hadirnya pc bersama segala kecanggihan dan kemudahan mengakibatkan dunia periklanan tambah berkembang gara-gara bisa bersinergi bersama teknologi.

Pada dasawarsa 1970-an, sangat terasa kemitraan yang sangat kental pada perusahaan periklanan dan media cetak. Bagi suratkabar, iklan adalah ujung tombak bagi kelangsungan hidup. Keterlibatan surat kabar sebagai agen publikasi sangat mengenai bersama kebutuhan riil berwujud pendapatan (income) untuk menutup ongkos produksi. Salah satu indikator ini adalah kenyataan bahwa 60–70% penghasilan media diorientasikan berasal berasal dari iklan (Rahayu, 2001: 78). Orientasi ini disebabkan jumlah penghasilan iklan jumlahnya jauh lebih besar seandainya dibandingkan hasil penjualan oplah surat kabar. Pendapatan iklan yang besar otomatis dapat menunjang menutup ongkos memproses dan mengakibatkan harga berlangganan jadi lebih murah.

Sebelumnya iklan di televisi (dalam perihal ini TVRI) sempat jadi primadona tidak cuman suratkabar, tapi bersama kematian iklan televisi terhadap th. 1981 yang ditandai bersama penghentian ”Manasuka Siaran Niaga” , giliran radio menuai hasilnya. Tahun 1981-1988 adalah zaman keemasan radio swasta meraih iklan hingga pada akhirnya terhadap th. 1988 RCTI membuka ruang bagi kelahiran televisi swasta lain yang sangat berpengaruh terhadap peta periklanan di Indonesia.

Kurang lebih sepuluh th. kemudian, bersama-sama bersama beraneka krisis yang berlangsung di tanah air, berlangsung deregulasi terhadap dunia pertelevisian bersama timbulnya SK Menpen No. 286/1999 dan Izin Frekuensi berasal dari Direktorat jenderal Pos dan Telekomunikasi. Dari kebijakan ini, televisi swasta tetap bermunculan disusul berdirinya televisi-televisi daerah. Meski televisi tempat belum mamapu meraih banyak pengiklan, tapi televisi-televisi besar (yang sementara itu disebut televisi swasta nasional) sangat mengeruk kue iklan di dalam jumlah yang sangat besar dibanding media lain.

Selain itu, terhadap th. 1994, masyarakat juga terasa mengenal media televisi kabel bersama diawalinya layanan Indovision. Indovision menyewa frekuensi di C-band untuk transponder dan sistem broadcasting berasal dari satelit PALAPA C-2. Kemudian, Indovision meluncurkan sendiri satelit INDOSTAR-1 yang sesudah itu berubah nama menjadi CAKRAWARTA-1. Satelit inilah yang mengakibatkan kekuatan migrasi berasal dari sistem analog ke sistem digital. Dalam perkemangan berikutnya, Indovisian sebagai penyedia layanan televisi kabel mendapat pesaing, yaitu Kabelvision (1999) dan Astro (2006).

About The Author

Related Post